Resensi: Sebelas Patriot

11 Patriot

Judul buku: Sebelas Patriot

Penulis: Andrea Hirata

Penerbit: Bentang

Cetakan: 1, Juni 2011

Tebal: xii + 108

ISBN: 978-602-8811-52-1

Sebelas Patriot Lapangan Hijau

Dari sabang sampai Merauke, semua datang hanya untukmu

PSSI kebanggaanku, ku di sini untuk mendukungmu

Merah putih berkibar-kibar, semangatku berkobar-kobar

Di dadaku gagah Garuda, taklukanlah lawan-lawanmu

Begitulah cuplikan lagu berjudul “PSSI Aku Datang”, yang lirik dan aransemennya diciptakan sendiri oleh Andrea Hirata. Selain lagu tersebut, ada juga dua lagu lainnya, yaitu “Sebelas Patriot” dan “Sorak Indonesia”. Tiga lagu tersebut persembahan Andrea untuk suporter Tim Nasional Indonesia. Lagu semangat bagi 11 Patriot Bangsa yang berlaga di lapangan hijau.

Tiga lagu tersebut ada dalam CD yang disertakan dalam novel ketujuh Andrea Hirata, berjudul Sebelas Patriot. Novel ini bertema tentang sepak bola. Olah raga yang sangat merakyat di hampir seluruh negara di dunia. Tidak peduli apakah itu negara adi kuasa, negara maju atau berkembang, negara dunia ketiga, bahkan negara yang sedang dijajah pun punya hak untuk mencintai sepak bola. “Mereka tak dapat menahan diri untuk tidak bermain sepak bola. Karena sepak bola adalah kegembiraan mereka satu-satunya. Karena mereka tahu bahwa sepak bola berarti bagi rakyat jelata yang mendukung mereka. Lapangan bola adalah medan pertempuran untuk melawan penjajah” (hlm 21).

Seperti karya-karya Andrea sebelumnya dalam Tetralogi Laskar Pelangi, Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas, kembali Andrea memberikan kisah inspiratif yang akan membuat pembaca terharu akan ketulusan cinta antara ayah-anak. Terenyuh akan semangat patriotisme Ikal. Takjub akan semangat Ikal dalam meraih setiap impiannya. Tertawa terpingkal akan keluguan masyarakat dan gaya humoris Andrea.

Membaca Sebelas Patriot seperti membaca kepingan puzzle yang lepas dalam kisah kehidupan Ikal. Dalam perjalanan hidup Ikal sejak di Belitong sampai merantau ke Eropa, ada satu kepingan kisah yang tidak dikisahkan dalam karya-karya Andrea sebelumnya, yang bercerita tentang hidup Ikal. Satu kisah tentang masa lalu ayahnya, yang begitu membekas dalam diri sang ayah dan kemudian ikut memberikan warna dalam rangkaian kisah hidup Ikal.

Cerita berawal dari sebuah foto tua yang ditemukan Ikal di rumahnya. Foto yang kemudian ia ketahui adalah foto ayahnya. Dalam foto tersebut tampak seorang pria muda dengan seragam pemain sepak bola sambil memegang piala. Anehnya, sang ayah dalam foto tersebut tidak menampilkan wajah yang bahagia, tidak tersenyum. Setelah bertanya dan mendengar cerita dari seorang kawan lama sang Ayah, tahulah Ikal bahwa ayahnya dahulu pernah menjadi seorang Bintang Sepak Bola. Namun, karir ayahnya sebagai pemain sepak bola tidak berakhir dengan indah. Kekejaman penjajah mengakibatkan ia tidak bisa bermain sepak bola lagi. Sang ayah dikirim ke tangsi, dan kembali dengan tempurung kaki kiri yang hancur. Ia tidak akan bisa main sepak bola lagi, waktu itu usianya baru 17 tahun. Gambar ayah dalam foto tersebut diambil setelah pertandingan terakhirnya sebagai bintang sepak bola.

Ikal yang sangat mencintai ayahnya, saat itu duduk di kelas 6 SD. Ia bertekad untuk mewujudkan impian ayahnya yang kandas. Ya, Ikal bermimpi menjadi  pemain sepak bola di tim nasional PSSI.

Dimulailah perjalanan Ikal dalam meraih impian menjadi pemain sepak bola. Ia berlatih pada pelatih Toharun. Pelatih Toharun adalah pelatih yang unik, namun gigih dalam melatih bibit muda calon atlit nasional. Karir pelatih Toharun mengikuti jejak karir ayahnya yang juga pelatih sepak bola, yaitu pelatih Amin. Di kemudian hari, anak Pelatih Toharun ternyata juga berkarir sebagai pelatih sepak bola, namanya Pelatih Tohamin.

Pelatih Toharun memiliki filosofi tersendiri dalam melatih anak asuhnya, filosofinya dikenal dengan Filosofi Buah-buahan. Misalnya, tendangan pisang. Teknik ini untuk pemain sayap, termasuk Ikal. Jika tendangan ini berhasil, bola akan meluncur secara melengkung seperti buah pisang sehingga penjaga gawang gelagapan. Teknik yang berikut, sundul labu siam. Teknik ini seperti orang menyundul buah labu siam di kebun. Tujuannya, agar striker unggul dalam umpan-umpan tinggi dan mampu melakukan tandukan secara akurat. Selanjutnya, teknik kuda-kuda buah nangka. Maksudnya, para pemain belakang bertindak selayaknya buah nangka besar yang tidak mudah digeser. Terakhir, teknik durian runtuh. Seluruh pemain yang ada di lapangan disuruh menendang bola sekuat-kuat tulang secara bersamaan dalam jarak dekat dan sang kiper harus mampu menangkap bola sebanyak-banyak kemampuannya (hlm 44).

Menarik menyimak perjalanan Ikal dalam usahanya menembus penyeleksian atlit junior PSSI. Pada akhirnya, setelah mengetahui hasil usahanya, Ikal diingatkan ayahnya bahwa “Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya” (hlm 61).

Bagi pembaca setia karya-karya Andrea, tentu mengenali gaya bahasa Andrea. Gaya bertutur yang akrab, sederhana, dan menghibur. Andrea sangat piawai dalam mengolah tiga unsur ini. Sarat makna dalam setiap kisah. Buku ini cukup ringkas dan menariknya lagi, di dalamnya terdapat beberapa foto Andrea muda ketika menjadi backpacker di eropa.

Dalam novel ini, Andrea Hirata memberi tahu kita bahwa “menggemari tim sepak bola negeri sendiri adalah 10% mencintai sepak bola dan 90% mencintai tanah air” (hlm 88). Terakhir, pesan moral dalam buku ini adalah, kita belajar dari keluguan, ketulusan, dan keikhlasan cinta antara ayah-anak-Ikal dan Ayahnya-kemudian antara mereka dan sepak bola. Di tengah segala kesederhanaan terdapat jiwa, semangat, dan impian yang begitu besar. Seperti ayah Ikal, kita semua adalah patriot bagi keluarga kita.

(Ade Damayanti)

Visit my goodreads: http://www.goodreads.com/review/edit/11925891

Advertisements

About adedamayanti

.... ehm.....
This entry was posted in Review Buku. Bookmark the permalink.

One Response to Resensi: Sebelas Patriot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s