Resensi And The Mountains Echoed

And the mountains echoed

Judul: And The Mountains Echoed

Penulis: Khaleed Hossaini

Penerbit edisi bahasa Indonesia: Mizan

Alkisah di sebuah kampung miskin bernama Shadbagh, di negeri Afghanistan, hidup seorang pria bernama Saboor. Seperti layaknya pria yang lahir dan tumbuh di perkampungan miskin, hidup Saboor pun penuh dengan keterbatasan dan perjuangan. Untuk mempertahankan hidup dia dan keluarganya yang terdiri dari seorang istri (Parwana), tiga orang anak (Abdullah, Pari, dan Iqbal). Abdullah dan pari adalah anak Saboor hasil pernikahan beliau dengan istri pertamanya. Walaupun Saboor tergolong pria pekerja keras, namun apalah yang bisa diharapkan dari desa miskin seperti Shadbagh. Pekerjaan Saboor hanya seputar pekerjaan kasar seperti menjadi kuli bangunan atau mengolah lahan perkebunannya.

Saboor memiliki adik ipar laki-laki bernama Nabi. Nabi adalah adik Parwana. Di awal cerita, Nabi merupakan pria berusia sekitar 20-an. Pria berwajah tampan ini pergi dari kampung halamannya, mengadu nasib ke ibu kota, Kabul. Laki-laki inilah yang memulai segala kisah berantai dan berliku namun berujung pada satu titik temu, dalam buku setebal 512 halaman ini.

Abdullah sangat menyayangi Pari. Sejak pari dilahirkan sebagai piatu, ibunya meninggal ketika melahirkan Pari, Abdullah-lah yang merawatnya. Dia yang selalu menjaganya. Mengajaknya bermain, bahkan membersihkan kotorannya. Para tetangga di Shadbagh tahu bahwa mereka berdua tidak terpisahkan. Bagi Abdullah, Pari adalah cahaya matahari di hatinya.

Malapetaka pun datang. Peristiwa yang mengancurkan hati Abdullah. Ketika cahaya matahari di hati Abdullah direnggut. Nabi mengambil Pari, dijual kepada keluarga Wahdati. Keluarga kaya di Kabul, tempat Nabi bekerja sebagai sopir. Pasangan tersebut tidak memiliki anak. Di satu sisi, kehadiran pari membawa cahaya baru bagi pasangan Wahdati. Namun di sisi lain, Abdullah kehilangan cahaya mataharinya. Kepergian pari ibarat pisau tajam yang menyayat hati, menyisakan luka yang sangat dalam. Hati Abdullah hancur. Abdullah tidak mengerti bagaimana bisa orangtuanya begitu tega menjual Pari. Namun, orangtua Abdullah memiliki alasan tersendiri, alasan yang bijaksana menurut mereka. Afghanistan memiliki musim dingin yang dahsyat. Di kampung Shadbagh, musim dingin yang keji kadang mampu merenggut hidup anak-anak mereka yang tidak sanggup bertahan. Dan, dengan menjual Pari kepada keluarga yang lebih kuat secara ekonomi, mereka berharap pari bisa selamat dari musim dingin di Shadbagh dan dari segala keterbatasan fasilitas hidup yang akan dia temui nanti. Pun uang hasil “adopsi” Pari bisa berguna untuk menjalani kehidupan keluarga Saboor yang tersisa. “Satu jari harus dipotong untuk menyelamatkan satu tangan,” begitu pesan Parwana kepada Abdullah.

Kisah pun bergulir ke Kabul, ke rumah besar dan mewah kediaman keluarga Wahdati. Harus diakui, saya berdecak kagum akan kepiawaian Hosseini dalam menggambarkan atau mendeskripsikan suasana tempat. Hosseini menuliskan bagaimana rumah Wahdati yang megah dengan sangat detail dan indah. Bagaimana dia menggambarkan karpet, ruang keluarga, pondok terpisah dari rumah utama tempat Nabi tinggal, dan lain-lain. Hosseini sangan piawai dalam hal ini.

Suleman Wahdati adalah seorang pria kaya yang hidup berkecukupan dari harta warisan orangtuanya. Dia menikah dengan Nila Wahdati. Nila merupakan wanita berdarah campuran Afghanistan-Perancis. Perpaduan asia-eropa menghasilkan keindahan, kecantikan, dan modernitas. Tiga hal tersebut terangkum dalam satu sosok cantik Nila Wahdati. Bahkan Nabi pun yang berprofesi sebagai supir keluarga Wahdati, tidak bisa menghindari untuk tidak jatuh hati pada wanita ini.

Pari yang saat itu masih berusia 3 tahun, hidup penuh siraman cinta dari Pasangan Wahdati. Bukan saja siraman cinta, Pari memiliki segala yang mungkin tidak akan dia dapatkan jika menjalanai masa kanak-kanaknya di Shadbagh. Segala macam mainan dan rekreasi pada akhirnya mampu menghapus kenangan akan Shadbagh dari memori Pari. Perlahan-lahan, wajah Abollah (panggilan Pari kepada Abdullah), Saboor, Iqbal, Parwana, bahkan Shuja ( anjing yang menjadi teman Pari ketika di shadbagh) semakin memudar. Seperti memudarnya foto tua hitam putih yang tidak terawat.

Rumah besar pasangan Wahdati yang selama ini ibarat rumah besar yang jauh dari nuansa sebuah keluarga. Kini sejak kehadiran pari, menjadi lebih segar ibarat sebuah rumah besar yang dihuni oleh sebuah keluarga. Suleman Wahdati yang biasanya mengurung diri di kamar untuk melukis atau membuat sketsa, kini sering terlihat menghabiskan waktu bersama pari. Suleman akan menggenggam tangan Pari  yang memegang pensil, membuat sketsa hewan di sebuah kertas putih kosong. Mereka membuat sketsa Jerapah dan hewan-hewan lainnya. Begitu pula dengan Nila. Nila yang sering menulis puisi, kerap membacakan cerita untuk Pari.

Pada suatu hari, Suleman terserang stroke yang mengakibatkan dia harus berbaring di tempat tidur dan melakuakan segala aktivitasnya dari tempat tidur tersebut. Mulai dari makan, tidur, urusan ke kamar mandi, bahkan menerima tamu. Nila yang merupakan istri tanpa keahlian mengurus suami atau rumah tangga kehabisan kesabaran menghadapi sindiran orangtua Suleman. Dia bahkan tidak mampu menghadapi tatapan Suleman, suaminya sendiri. Di tengah segala keputusasaan, dia mengambil koper, mengajak pari, meninggalkan Afghanistan menuju Perancis. Sejak saat itu, Nila tidak pernah lagi kembali ke Afghanistan. Bahkan untuk sekadar mengunjungi suaminya. Tinggallah Nabi yang mengurus segala keperluan Suleman. Nabi menyapinya, menjadi penerjemah ucapan Suleman (yang mengalami kesulitan bicara akibat serangan stroke) dengan orang lain. Mengganti pakaiannya, memasangkan popok orang dewasa, membaca untuknya, dan mengganti popok yang dia juga yang memasangnya. Sempat terbersit niat Nabi untuk berhenti bekerja pada tuan Suleman. Dia akan mencari penggantinya. Namun pada akhirnya, Nabi bertahan di rumah tersebut sampai bertahun-tahun kemudian. Sampai Suleman meninggal.

Nabi menjalani hari-hari di rumah besar tersebut. Menjadi saksi perang yang dialami negerinya, perang yang datang silih berganti walaupun dengan tokoh dan pemeran utama  berbeda. Nabi dan rumah terebut menjadi saksi perubahan yang terjadi di negeri Afghanistan. Rumah itu ikut merasakan roket yang menimpa tembok besarnya. Sebagian perabot dan karpet yang menghiasi rumah pun menjadi korban penjarahan orang-orang yang ikut rusak moralnya akibat perang. Nabi hanya bisa pasrah menghadapi efek buruk dari perang yang tidak berkesudahan. Kerusakan fisik yang menimpa bangunan-bangunan yang ada di Kabul maupun rusaknya moral para tentara perang tersebut. Nabi tetap tinggal di rumah Wahdatiselama 63 tahun, menemani Suleman sampai wafat. Dan pada akhirnya Suleman mewariskan rumah tersebut pada Nabi. Pada masa Afghanistan kedatangan para relawan internasional, Nabi mengizinkan rumah tersebut digunakan sebagai kantor para sukarelawan dari luar negeri. Salah seorang tenaga sukarelawan terebut bernama Markos, dokter ahli bedah dari Yunani. Nabi membuat surat yang dibaca Markos setelah Nabi wafat. Dalam surat tersebut, Nabi menceritakan tentang pemilik rumah yang sesungguhnya, tuan Suleman. Tentang Nila, juga tentang Pari yang direnggut dari keluarganya. Nabi minta bantuan Markos untuk mencari Pari, menceritakan kisah hidup yang sebenarnya tentang Pari dan menyerahakan hak waris rumah kepada Pari.

Di Paris, setelah dewasa, Pari kuliah matematika di Sorbonne university. Nila menjadi penulis puisi yang cukup terkenal di Paris. Dia juga mengelola toko buku. Sampai usia dewasa, Nila tidak pernah menceritakan perihal sejarah keluarga pari yang sebenarnya. Bahwa dia bukanlah anak kandungnya. Bahwa Pari memiliki keluarga di shadbagh. Bahwa Nila dan Suleman telah merenggut pari dari kakak yang sangat menyayanginya, Abdullah.

Nila yang hidupnya diwarnai dengan alkohol, rokok, pria, dan puisi pada akhirnya wafat karena bunuh diri. Pari menjalani kehidupan di Paris. Menikah, memiliki 3 anak, menjadi profesor, dan megajar di sebuah universitas. Anak-anak pari pun tumbuh dewasa, menikah, dan pari pun menjadi nenek. Eric, suami pari meninggal ketika pari berusia 48 tahun.

Pada suatu hari, Pari menerima telepon jarak jauh, dari Kabul, Markos.

Dalam pembicaraan melalui telepon, Markos menceritakan soal catatan panjang yang ditulis Nabi. Mendengar nama Nabi disebut, ingatan Pari kembali ke Kabul. Markos membaca seluruh catatan Nabi. Dan ingatan Pari pun menyeruak keluar dari kedalaman benaknya. Perlahan-lahan, kenangan akan kampung Shadbagh terurai kembali, tentang gunung-gunung yang mengelilingi Shadbagh, kincir angin, pohon besar, dan anjing dengan luka di telinga yang selalu mencari Pari. Samar-samar, dia teringat akan potongan sebuah syair dan sosok kakak laki-laki yang menjadi pendaran cahaya hatinya. Selekasnya, pari mulai mempersiapkan sgala sesuatu untuk melakukan perjalanan ke tanah kelahirannya, Afghanistan.

Di Kabul, di rumah besar keluarga Wahdati, dia bertemu Markos. Pari bernostalgia dengan barang-barang yang masih bertahan di rumah yang kini menjadi miliknya sebagai hak waris sesuai wasiat Nabi. Mobil yang pernah membawa Pari jalan-jalan keliling kota Kabul bersama Abdullah masih ada di sana, menjadi saksi perubahan-perubahan yang terjadi terhadap rumah tersebut dan pergantian para pemiliknya. Di sinilah, pada akhirnya Pari merasa menemukan sejarah dirinya.

Pada akhir kisah buku ini. Pada akhirnya, Pari menemukan informasi tentang Abdullah. Kakak laki-lakinya terebut sekarang tinggal di Amerika dan memiliki putri bernama sama dengannya, Pari.

Setelah 58 tahun terpisah, adik-kakak terebut akhirnya bertemu kembali. Namun ironis, Abdullah pada usia tersebut sudah hampir kehilangan kemampuanya untuk mengingat. Kesehatannya sudah sangat rapuh. Tidak ada airmata kebahagiaan dalam pertemuan dua saudara ini. Rasa bahagia itu hanya dapat dirasakan oleh Pari remaja dan Pari dewasa. Karena faktor usia dan kesehatan, Abdullah sudah tidak mampu utnuk mengingat Pari adiknya.

Nasib tragis kisah dua bersaudara tersebut diikuti juga dengan nasib tragis adik tiri mereka, Iqbal. Iqbal kini masih tinggal di Afghanistan, tanpa rumah tinggal yang memadai. Kampung halaman keluarga besar ini, Shadbagh, kini telah berubah total.

Ketika membaca buku ini, saya harus tetap konsentrasi dengan alur. Alur yang “loncat-loncat” antara tahun dan tempat, membuat pembaca harus hati-hati menjaga konsentrasi. Hosseini sangat lihai memainkan jalinan alur yang lumayan “kusut” ini.

Seperti dua buku Hosseini sebelumnya, beliau sangat mahir menciptakan sejarah hidup para tokoh. Seperti sebuah investigasi, beliau sangat teliti mencipakan sejarah hidup para tokoh sehingga karakter tiap tokoh sangat kuat.  Namun, Hosseini seperti kebablasan dalam menceritakan setiap tokoh sehingga (menurut saya) ada terlalu banyak tokoh pendukung yang sejarahnya tidak perlu dikisahkan secara mendalam. Kisah para tokoh pendukung yang semestinya tidak perlu diceritakan sampai berhalaman-halaman. Misalnya, kisah hidup Markos, Masooma, dan Parwana. Terlalu banyak tokoh yang tidak penting, membuat ikatan emosional pembaca dengan tokoh utama jadi semakin jauh.

Berbeda dengan dua buku sebelumya, The Kite Runner dan A Thousands of Splendid Suns yang  mampu membuat saya menangis, saya tidak mengalami gejolak emosi yang sama dengan buku ini. “Rasa Afghanistan” kurang terasa dalam karya Hosseini yang ini. Mungkin memang, sebuah karya Masterpiece tidak tercipta untuk yang ketiga kalinya. Walaupun begitu, salut saya untuk Khaleed Hosseini atas kisah yang luar biasa indah. Kalaupun beliau akan mengeluarkan karya berikutnya, saya tidak sabar untuk membacanya.  Khuda Hafiz Mr. Hosseini.

Empat bintang, saya sematkan untuk And The Mountains Echoed.

Visit my Goodreads:  http://www.goodreads.com/review/show/676635747

Advertisements

About adedamayanti

.... ehm.....
This entry was posted in Review Buku. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s