Tahun Baru (lagi) Resolusi (lagi)

Tahun Baru (lagi)

Resolusi (lagi)

Pendar cahaya kembang api mengalahkan cahaya bintang. Langit Jakarta  malam ini penuh warna-warni kembang api, indah sekali. Ada yang berwarna merah, hijau, biru, putih, dan lain-lain. Ada yang berbentuk bunga, bentuk menyerupai kincir angin, atau hanya pancaran cahaya percikan api. Entah siapa yang membuat kembang api tersebut. Tapi, sungguh sangat indah untuk dilihat. Kumparan cahaya kembang api semakin meriah dengan diiringi tiupan terompet yang saling bersahutan. Orang-orang dengan ponsel berkamera berusaha mengabadikan momen tersebut. Atau mengambil potret diri dengan latar belakang cahaya kembang api tersebut. Itulah sedikit gambaran tentang keriuhan malam tahun baru. Setiap tahun, hampir selalu sama, sudah menjadi tradisi di seluruh dunia.

Pada detik-detik malam pergantian tahun Masehi itu, semua orang bergembira. Tahun baru, harapan baru, impian baru. Dengan penuh semangat baru, semua orang membuat resolusi.

Seorang mahasiswa yang sudah 5 tahun bergelar mahasiswa membuat resolusi untuk bisa menyelesaikan kuliahnya tahun ini. “Lulus kuliah” itulah kalimat yang tertera di agendanya pada baris pertama di antara beberapa resolusi yang ia buat.

Seorang karyawan swasta yang sudah mengabdi di perusahaannya selama 3 tahun membuat resolusi sebagai berikut: “Jadi manager atau pindah kerja dengan gaji 5 juta sebulan”.

Pasangan suami istri yang sudah menikah selama 5 tahun dan belum dikarunia anak membuat resolusi bersama. Dengan didampingi istrinya, sang suami menulis di secarik kertas “Menjadi Ayah”. Kemudian, dia menulis kalimat “Menjadi ibu” di kertas yang lain untuk diberikan kepada istrinya. Mereka akan menyimpannya di dompet masing-masing. Agar tiap hari, mereka akan selalu ingat akan resolusi bersama tersebut.

Seorang pria berusia 30-an, profesional muda dengan gaji dan pekerjaan yang mapan, membuat resolusi di tengah keriuhan pesta tahun baru yang digelar kantor tempat dia bekerja sebagai berikut: “Menikah”.  Tak lupa kemudian ia sebar melalui jaringan sosial media. Tanpa ia sadari, nun di tempat yang jauh, di bawah langit yang sama seorang wanita atau beberapa wanita menuliskan resolusi yang sama.

Seorang pedagang minuman yang sedang berjualan di kawasan pesta tahun baru tersebut juga membuat resolusi. Sambil merapikan botol-botol kosong minuman yang dijualnya, ia melirihkan doa dalam hati: “Bismillah mudah-mudahan bisa setor haji tahun ini.”

Semua orang, siapa saja membuat resolusi masing-masing. Tiap orang punya impiannya sendiri. Bahkan ada orang yang membuat resolusi yang sama dengan tahun lalu. Ini tentu saja karena resolusi tahun lalu belum berhasil ia capai.

Apa makna resolusi?

Seorang mahasiswa bisa saja berniat menyelesaikan kuliahnya tahun ini. Namun apalah artinya resolusi kalau ia tidak mengerjakan skripsinya. Tidak mencari data di perpustakaan atau penelitian untuk kelengkapan data pada skripsinya. Tidak menyelesaikan persyaratan kelulusan yang ditetapkan pihak akademik.

Seorang karyawan berambisi untuk menjadi manager. Namun bagaimana bisa ia menjadi manager kalau prestasi kerjanya tidak meningkat dari tahun kemarin. Target marketing yang ditetapkan tidak berhasil ia raih. Nilai-nilai yang menjadi budaya perusahaannya tidak ia laksanakan dengan baik.

Semua orang muslim pasti ingin pergi haji. Dan semua orang memiliki kesempatan yang sama di mata Tuhan untuk mengunjungi tanah suci. Cuma masalah ketulusan niat masing-masing. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan dimudahkan jalan oleh-Nya. Jika memang berresolusi untuk pergi ke tanah suci, setorkan tabungan kita untuk ke tanah suci bukan untuk investasi macam-macam atau membeli gadget keluaran terbaru. Atau mulai membuka tabungan haji. Insya Allah, jalan kita akan dimudahkan.

Begitu juga dengan resolusi-resolusi lainnya, apalah artinya tanpa tindakan untuk meraihnya.

“Act speaks louder than words”. Tindakan lebih memberikan solusi daripada sekadar kata-kata. Tidak ada salahnya dengan menuliskan resolusi dalam agenda kita. Namun jangan lah lupa untuk membuat langkah-langkah dari resolusi besar. Ibarat sebuah bab judul dalam sebuah karya tulis, janganlah lupa membuat sub-sub judulnya. Membuat langkah-langkah kecil untuk meraih cita-cita tahun ini. Ketika resolusi tahun lalu tidak berhasil kita capai mungkin ada yang perlu kita ubah dengan sub-sub resolusi tahun lalu. Membuat resolusi janganlah hanya menjadi ritual tahunan tanpa renungan tahunan. Resolusi tahun ini boleh saja sama dengan tahun lalu, tapi mari kita lakukan modifikasi dengan sub-sub resolusinya.

Selamat tahun baru 2014.  Selamat membuat resolusi dan sub-sub resolusi.

Advertisements

About adedamayanti

.... ehm.....
This entry was posted in Tulisanku. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s