Resensi: Anna Karenina

Judul buku: Anna Karenina

Penulis: Leo Tolstoi

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Ini adalah kali kedua saya membaca buku ini. Pertama kali saya berkenalan dengan Anna Karenina sekitar 5 tahun lalu. Waktu itu saya tergoda dengan kepopuleran buku ini dan penulisnya.

Saya baru saja meng-hatam-kan jilid 1. Saya belum sempat melanjutkan kisah Anna di jilid 2.

Anna Karenina adalah sosok perempuan sempurna pada masanya bahkan jika ia hidup di masa kini pun, ia bakal menjadi sosok wanita idola di kalangan wanita modern. Ini karena karakternya yang sangat kuat. Anna adalah wanita karismatik dengan kehidupan yang sangat baik. Memiliki kecantikan sempurna dan mampu membawakan diri dengan anggun dalam pergaulan kalangan bangsawan Rusia pada masa itu.

“Wanita cantik selalu beruntung”. Sepertinya pepatah ini sangat pas ditujukan pada Anna. Dia memiliki kehidupan yang sempurna. Menjadi istri seorang politikus yang sangat disegani masyarakat dan menjadi ibu dari seorang putra yang sehat. Dalam pergaulan pun, banyak orang mengagumi kepribadian Anna yang sangat menyenangkan.

Hidup Anna berjalan sangat ideal sampai ia jatuh cinta dengan Vronski. Seorang prajurit yang terbiasa hidup sebagai pria lajang dan tidak pernah berniat untuk berumah tangga.

Anna sadar, ia tidak bisa menghindari cinta yang tidak semestinya ini. Namun, ia tidak bisa lari dari gejolak cinta ini dan ia pun mengikuti perasaannya. Affair pun terjadi dan kisah cinta mereka berdua menjadi buah bibir di kalangan bangsawan Rusia. Sang suami, Aleksei Aleksandrovich, bukannya tidak tahu. Ia tahu, namun ia tidak mau bersikap gegabah mengambil keputusan yang akan mencoreng nama baiknya sebagai tokoh masyarakat yang selama ini memiliki reputasi baik. Namun, kesabaran Aleksei pun ada batasnya. Pada akhirnya, sang suami pun mnegajukan cerai.

Saya setuju dengan pendapat penulis dalam cover belakang buku ini. Kekuatan buku ini bukan pada tema utama novel. Memang betul, tema cerita ini sangat biasa. Hanya seputar jatuh cinta, putus cinta, dan perselingkuhan. Namun, penggambaran kondisi batin tiap tokoh mampu menyedot perhatian saya untuk membaca buku tebal ini sampai selesai. Penggambaran kondisi batin para tokoh begitu kuat. Saya merasa begitu dekat secara emosional dengan Anna, Vronski, Aleksei, Levin, maupun Kitty. Saya seperti ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Buku yang sangat menyentuh perasaan dan emosi.

Pembaca diajak ikut merasakan perasaan Levin ketika lamarannya ditolak oleh Kitty. Saya pun ikut hanyut terbawa semangat Levin ketika beliau begitu menikmati bekerja mengolah tanah pertaniannya.

Sebagai sesama perempuan, Saya ikut memahami posisi Anna ketika dia dengan segala ketegarannya tak mampu menghalau rasa cintanya kepada Vronski.

Ada banyak sekali kutipan menarik yang saya tandai dalam buku ini. Bisa dikatakan melalui kutipan-kutipan ini, saya menemukan perspektif  Leo Tolstoi secara pribadi mengenai beberapa hal, seperti, soal makna pendidikan bagi rakyat, kehidupan buruh, filosofi bekerja, dan hakikat dari rasa cinta yang sesungguhnya.

Ada beberapa dialog, baik antara dua  orang maupun dialog dengan diri sendiri yang, kata-katanya membuat saya “meleleh.” Berikut ini di antaranya:

Gambaran perasaan Anna yang tidak bisa menolak perasaan hatinya:

“Aku tidak ingin menyakiti dirimu. Aku hanya ingin menyelamatkan diriku, walaupun aku tidak tahu bagaimana caranya.” (hal 100)

Dialog Levin dengan dirinya sendiri ketika patah hati:

“Kamu akan tetap jadi orang yang dulu, dengan keraguanmu, dengan rasa tak puas terhadap diri sendiri yang tak pernah lenyap itu, dengan usaha sia-sia membuat perbaikan, dan kebahagiaan yang tak pernah tercapai dan memang tak mungkin terjadi untukmu.” (hal 114)

Nasihat Aleksei Aleksandrovich sebagai seorang suami kepada istrinya, Anna:

“Memasuki seluk-beluk perasaanmu aku tak punya hak. Perasaanmu itu urusan hati nuranimu; tapi aku wajib menunjukkan padamu tentang kewajibanmu, demi dirmu, demi diriku, dan demi Tuhan. Hidup kita ini terikat satu sama lain, dan terikat bukan oleh manusia, tapi oleh Tuhan.”

Ucapan Levin mengenai makna kehidupan”

“Dunia kita ini kan cuma lumut kecil yang tumbuh di planet kita yang kecil. Tapi kita menyangka bahwa kita punya sesuatu yang besar, pikiran-pikiran besar, urusan-urusan besar. Padahal semua itu Cuma butiran pasir.” (Hal 462)

“Tuhan memberi hari, dan Tuhan memberi kekuatan. Dan hari serta kekuatan itu diabdikan pada kerja, dan dalam kerja itu sendiri terdapat berkat.” (hal 339)

Setelah membaca buku ini, saya pun jatuh cinta dengan gaya tulisan Leo Tolstoi, dan ingin berburu karya-karya beliau yang lainnya.

Advertisements

About adedamayanti

.... ehm.....
This entry was posted in Review Buku. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s