The Fault In Our Stars

images-8

Resensi Buku
Judul: The Fault in our stars
Penulis: John Green

https://www.goodreads.com/book/photo/11870085-the-fault-in-our-stars

Tidak dibutuhkan hidup yang sempurna untuk cinta yang sempurna. Kira-kira, itulah pesan utama buku ini. 🙂

Sebenarnya sasaran pembaca buku ini adalah remaja. Namun, walaupun termasuk kategori pembaca wanita dewasa, saya tetap menikmati, (hampir) menangis, dan penasaran dengan akhir cerita buku ini.

Tokoh-tokoh dalam buku ini adalah remaja usia sekitar 17-an. Hazel Grace, Caitlyn, Isaac, dan yang paling keren dan romantis yg menjadi favorit saya adalah “Augustus Waters.” Saya sangat jatuh cinta dengan cowok keren dan karismatik yang memiliki nama panggilan Gus ini.

Di usia yang masih sangat muda, anak-anak ini sudah didiagnosis menderita kanker. Kemoterapi, ICU, dan Rumah sakit adalah sesuatu yang tidak asing lagi bagi mereka. Meninggalkan sekolah normal karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk mengikuti sistem belajar di sekolah. Meskipun dengan kondisi tubuh yang tidak se-sempurna remaja normal seusianya, bukan berarti mereka melewati masa-masa remaja mereka layaknya seseorang yang sakit dan diam saja di rumah. Semangat meraih mimpi dan kekuatan kisah cinta remaja, adalah dua hal yang begitu menyentuh ketika saya membaca kisah Hazel dan Augustus ini. Dukungan cinta keluarga dan persahabatan adalah nilai tambahan yg saya peroleh.

Hazel bertemu Augustus di Support Group, komunitas anak-anak remaja penderita kanker. Melalui grup ini, mereka bisa berbagi perasaan dan cerita. “Live your best life today”, slogan yang coba disebarkan grup ini. Tujuan grup ini tentu saja untuk menumbuhkan semangat hidup anak-anak penderita kanker yang memang tidak memiliki banyak waktu untuk hidup.

Selanjutnya, Hazel dan Augustus menjadi bersahabat, dan hubungan mereka berkembang menjadi hubungan kisah asmara. Layaknya anak muda yang berpacaran, Hazel dan Augustus berbagi cerita apa saja, pengalaman pengobatan kanker yang sudah mereka jalani, film favorit, dan berbagi buku favorit masing-masing. Ada satu buku favorit Hazel yang membuat dia penasaran dengan akhir kisah para tokohnya. Dalam buku tersebut memang si penulis membuatnya menggantung, tanpa akhir yang jelas. Hazel beberapa kali mengirim surat ke penulis, namun tak pernah menerima balasannya. Singkat cerita, mereka berdua berencana menemui sang penulis yang saat ini tinggal di Amsterdam, Belanda. Demi menjawab rasa penasaran Hazel akan nasib para tokoh dalam cerita.

Namun sangat disayangkan ternyata sikap si penulis berbeda seratus delapan puluh derajat dari apa yang dibayangkan Hazel. Sang penulis novel adalah seorang yang angkuh, pemabuk, dan tidak pernah menanggapi atau membaca surat-surat dari para penggemarnya. Menurut sang novelis, adalah hak dia untuk menentukan akhir cerita dari setiap bukunya. Adalah hak pengarang untuk membuat sebuah kisah menggantung atau apa saja terserah dia. Dia tidak perlu membuat akhir hidup dari semua tokoh. Terserah pembacanya mau menafsirkannya seperti apa. Dengan rasa kecewa akan sikap sang penulis, mereka pulang ke rumah setelah menghabiskan 3 hari liburan di Amsterdam.

Sekembalinya di Indiana, kondisi Augustus ternyata makin memburuk. Kanker yang diderita mulai menggerogoti tubuhnya. Pada bagian inilah, masa-masa hidup Augustus perlahan-lahan berakhir. Tubuh yang semakin kurus, menjalani hari dengan memakai kursi roda, dan seterusnya. Orangtua Augustus bukannya tidak berusaha, segala macam pengobatan sudah dicoba. Namun, kanker yang ada di tubuh Augustus begitu kuat, perlahan-lahan merenggut apa yang tersisa dari tubuh putranya. Putranya yang pernah menjadi tim inti bola basket di sekolah kini menjadi sangat kurus dan memerlukan bantuan untuk melakukan segala sesuatu. Ini adalah bagian paling sedih dari buku ini.

Buat para pembaca cerita cinta romantis, siap-siap kecewa dengan akhir buku ini. Tidak semua kisah cinta berakhir bahagia. Namun dari akhir yang tidak bahagia pun, akan selalu ada yang membekas, yang memberi noda warna yg tidak akan hilang walaupun kehidupan terus berlanjut.

Belajar dari kisah asmara Hazel-Augustus, kita selalu berusaha untuk sesempurna mungkin pada setiap hal kecil yang kita persembahkan untuk orang-orang tercinta. Namun, “The world is not a wish granting factory.” Tidak semua hal dalam hidup, berjalan indah seperti yang kita harapkan. Kisah Hazel, Augustus, dan Isaac (yang kehilangan penglihatan akibat kanker) membuat saya terenyuh, usia mereka masih sangat belia tapi cobaan hidup mereka luar biasa. Mereka mensyukuri hidup dengan menjalani aktivitas dengan penuh kegembiraan. Mencintai teman, keluarga, dan kekasih dengan penuh ketulusan. Menikmati setiap detik anugerah hidup yang diberikan Tuhan. Buku ini memberi pelajaran pada saya, untuk lebih menghargai hidup. Mensyukuri nikmat Tuhan, baik yg (menurut manusia) paling kecil sekalipun. Berjiwa besar untuk menerima takdir Tuhan, baik takdir yang manis, pahit, atau asam. Live your best life today. 🙂

Advertisements

About adedamayanti

.... ehm.....
This entry was posted in Review Buku. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s