Cinta Memihak Mereka yang Mau Menunggu

 

Review Buku “Sirkus Pohon”

Penulis: Andrea Hirata

Penerbit: Bentang Pustaka

 

Setelah hampir 3 tahun, akhirnya Andrea Hirata kembali dengan novel terbarunya “Sirkus Pohon.” Buku yang berisi kisah romantik, patriotik, dan intrik yang dikemas jenaka.

Cerita ini masih bertempat di kampung Belitong, tepatnya Kampung Belatik. Dua kisah cinta romantis di sebuah kampung kecil tidak terkenal, bahkan kadang tak digambar oleh pembuat peta buku-buku pelajaran sekolah. Namun, cinta bisa jatuh di mana saja bukan, tidak harus di tempat seromantis Italia atau Paris. Dua buah kisah cinta di sebuah kampung orang melayu. Selain kisah para manusia, di buku ini juga ada tokoh Buah Delima yang digambarkan begitu hidup dan kuat, seperti tokoh utama.

Alkisah pada suatu hari di gedung Pengadilan Agama. Seorang bocah bernama Tegar menemani ibunya untuk sidang perceraian. Di halaman gedung itu terdapat taman bermain untuk anak-anak. Sebuah tempat buat anak-anak bermain sambil menunggu orantua mereka yang sedang perang urat saraf dalam drama sidang perceraian. Beberapa anak sedang bermain di taman bermain itu. Tegar melihat seorang anak perempuan sebaya dengannya yang ingin main perosotan namun selalu dihalangi oleh tiga anak laki-laki yang menyalipnya. Geram tegar melihatnya. Akhirnya ia menuju perosotan tersebut, membentangkan tangannya, menghadang anak laki-laki yang sok menguasai perosotan tersebut. “Jangan takut, aku akan menjagamu,” ucap Tegar kepada anak perempuan dengan harum bunga Kenanga tersebut. Sebuah peristiwa masa kecil, sebuah kisah cinta pertama yang tak hilang, walaupun kemudian mereka dipisahkan jarak, dan tidak bertemu bertahun-tahun lamanya. Anak perempuan berbau kenangan bernama Tara merekam kejadian ini dalam benaknya bertahun-tahun, walau tanpa mengetahui nama anak laki-laki yang membelanya tersebut.

Di bagian lain kampung Belantik, dikisahkan seorang bernama Hobri atau biasa dipanggil Hob. Seorang bujang berusia 28 tahun, belum menikah, pengangguran, dan menempuh pendidikan hanya sampai kelas 2 SMP. Hob memiliki adik bernama Azizah yang cerewet dan selalu “menceramahi”nya soal pekerjaan yang ideal. Pekerjaan yang ideal adalah pekerjaan yang menggunakan seragam, berangkat pagi, punya mandor, punya tunjangan, dan sebagainya.

Hob bukannya malas dan tidak mau bekerja, namun lowongan pekerjaan biasanya mensyaratkan pelamar yang memenuhi kualifikasi pendidikan SMA atau sederajat. Yang, tidak bisa dipenuhi Hob. Yang dia mampu hanya kerja serabutan.

Pada suatu hari ketika menyaksikan pertandingan voli, Hob melihat Dinda. Hob jatuh cinta pada pandangan pertama. Dinda seorang gadis melayu sederhana, bekerja sebagai penjaga toko sembako. Dinda begitu mengagumi dan menyenangi buah delima. Hob bermaksud melamar Dinda, namun dia tidak mempunyai pekerjaan tetap. Selanjutnya, Hob pun berjuang mencari pekerjaan tetap, sampai kemudian dia bekerja sebagai badut sirkus di sebuah sirkus keliling milik Ibunya Tara. Hob begitu menikmati dan mencintai profesi barunya ini.

Tara juga bekerja membantu usaha sirkus ibunya. Tara pintar melukis. Dia membantu merias para badut dan menggambar ornament pada properti-properti sirkus. Tara sangat senang melukis, dan satu rahasia pribadinya adalah dia kerap melukis wajah anak laki-laki yang membelanya di taman  bermain pengadilan agama ketika dia menemani ibunya dulu. Tara tidak pernah bertemu dengan anak laki-laki itu lagi, dia menamainya Si Pembela. Namun, keinginan untuk bertemu dengannya lagi begitu kuat. Itulah sebabnya, dia melukis wajahnya banyak sekali dengan memperkirakan perubahan bentuk wajahnya dari tahun ke tahun. Agar Tara bisa mengenalinya nanti, ketika bertemu kembali.

Hob bekerja sangat tekun sebagai badut sirkus sampai bisa membangun rumah yang akan ia tempati jika menikah dengan Dinda nanti. Namun, suatu hari Dinda terkena penyakit yang tidak diketahui nama penyakitnya. Dinda hanya diam, tidak ingat apa-apa seperti terkena amnesia. Menurut diagnosa dukun kampung, penyakit Dinda disebabkan kutukan buah delima. Hob bingung, dengan kondisi Dinda, ia tidak diizinkan menikahi Dinda. Hob akhirnya menempati rumahnya sendiri dan begitu membenci buah delima. Namun, seperti kena kutukan juga, sebuah pohon delima tumbuh di halaman rumahnya. Pohon delima ini dianggap memiliki kekuatan gaib oleh penduduk kampung. Banyak yang mengkultuskannya ibarat jimat. Ada yang memasang poster kampanye pemilihan desa, ada yang memeluk pohon demi membawa keberuntungan, dan sejenisnya.

Seperti Tara yang tidak bisa melupakan Tegar, begitu pula Tegar. Selama ini, Tegar juga berusaha mencari Tara. Namun yang bisa dikenali Tegar tentang Tara adalah harum bunga kenanga. Tegar tidak tahu nama dan tidak mengenali bagaimana wajahnya setelah dewasa.  Akhirnya, sirkus pula yang mempertemukan mereka. Tegar bekerja di sirkus keliling milik Ibu Tara sebagai penari akrobat. Namun, wajah mereka bukanlah wajah ketika mereka anak-anak. Tara tidak mengenali Tegar sebagai Si Pembela. Dan begitu pula sebaliknya, Tegar tidak mengenali Tara sebagai Gadis Berbau Kenanga. Dan, usaha sirkus pun sempat tutup yang mengakibatkan Tegar mencari pekerjaan di tempat lain.

Cinta berpihak pada mereka yang menunggu. Ini yang akan dibuktikan Hob kepada Dinda. Dia bersikeras menikah dengan Dinda walaupun kondisi kesehatan Dinda belum kembali pulih. Hob membuktikan bahwa cintanya cinta yang sudah teruji dua musim. Selama Dinda sakit, Hob selalu mengunjungi Dinda, membawakannya buah delima dan berusaha mengembalikan ingatan Dinda agar kembali normal.

Membaca buku ini seperti menyaksikan pertunjukan sirkus. Penuh gelak tawa, dengan gaya bahasa para tokoh yang lugu dan  kocak. Kisah para tokoh juga berloncatan (dari kisah Hob, kemudian loncat ke kisah Tara-Tegar) ibarat menyaksikan penari akrobat dalam sirkus. Pohon delima digambarkan begitu kuat, seperti berperan sebagai tokoh utama. Para tokoh tambahan (bukan tokoh utama), seperti Taripol, Azizah, dan Adun juga digambarkan dengan karakter yang kuat. Nuansa melayu sangat terasa, mulai dari gaya bahasa para tokoh, pantun-pantun melayu, suasana dan kehidupan politiknya. Jika suatu hari buku ini dibuat menjadi film, jangan sampai “rasa melayu” ini dihilangkan. Ilustrasi bertema sirkus menambah menarik tampilan visual buku ini.

Meskipun tidak fokus berkisah tentang kekuatan sebuah impian, seperti buku-buku Andrea  yang lain (Laskar Pelangi, Maryamah Karpov, Sebelas Patriot), namun tetap saja kisah ini begitu berkesan buat saya. Buku ini mengajarkan kekuatan sebuah ketulusan, kejujuran, kesetiaan, dan jangan lupa membahagiakan orang lain. Buku yang cerdas dan indah. Tidak sabar menunggu 2 buku lanjutan dari buku ini.

 

Advertisements

About adedamayanti

Book lover and coffee addict.
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s